Format Liga Champions Baru: Nihil Makna dan Banyak Berbeda!
3 min read
Format Liga Champions Baru Nihil Makna dan Banyak Berbeda – Siapa sih yang nonton Liga Champions baru ini? Real Madrid ada di urutan 12, tapi kayaknya mereka tetap bisa juara, ya kan?
Saya sih suka banget sama skor 1-0, apalagi kalo kita yang nguasain permainan. Tapi ya, biasanya itu baru enak dipikirin setelah pertandingan, bukan saat itu. Kalo penampilannya kece, 1-0 itu kayak pizza yang simpel tapi mengenyangkan. Tapi kalo kalah 0-1 di kandang, duh, rasanya ngenes banget, kayak dikasih kado jelek pas ulang tahun.
Awal Cerita Format Liga Champions Baru
Nah, sekarang kita diajakin berkenalan dengan “tabel” Liga Champions yang baru, dan jujur aja, kayak aneh gitu. Masa Real Madrid yang ada di urutan 12 bisa sama-sama bersaing buat angkat trofi? Sementara tim Inggris yang nyangkut di urutan 12 di liga domestik pasti bakal disangka udah kelar.
Siapa sih yang nonton Liga Champions sekarang?
Saya lagi scrolling TV dan tiba-tiba nemu pertandingan Liga Champions. Terus saya mikir, “Ah, pasti mereka lolos juga deh.” Apakah ada yang peduli? Dulu saya nonton tiap putaran, tapi tahun ini, ngapain juga?
Penasaran, ada yang tahu berapa angka penonton untuk format baru ini? Rasanya sih udah jatuh bebas.
Ada juga yang nanya, “Apa kekacauan ini? Apa resiko kalo tim besar ngantuk?” Lihat Arsenal main jelek banget melawan Shakhtar, apa mereka nikmatin? Nggak ada yang enjoy di stadion.
Uefa udah bikin kompetisi yang bikin semua orang bingung, nggak ngerti apa yang terjadi di lapangan itu ada hubungannya sama tujuan akhir. Kalo semua orang nggak ngerti, ya udah, jadi nggak ada artinya sama sekali.
Bukan soal dua pertandingan tambahan, ini soal semua yang jadi meaningless dan sampah. Format lama sih nggak sempurna, tapi jauh lebih baik daripada ini.
Pembahasan Masalah transfer
Dengan Lewis Skelly lebih dipilih ketimbang Zinchenko, siapa yang mikir mending punya Reiss Nelson sama Smith Rowe daripada dua alumni City, Gabriel Jesus dan Sterling?
Kita nggak bisa ngapa-ngapain sama Smith Rowe, tapi saya siap potong dua pinjaman di Januari biar Reiss Nelson pulang dari London Barat dan Sterling dikembalikan ke sana.
Villa yang Jaim Banget
Lihat deh Villa, tim yang jelas-jelas beruntung dengan kekonyolan wasit. Contohnya waktu melawan Sheffield United di 2020, keeper Villa, Nyland, bawa bola sampai lebih dari garis gawang, tapi golnya nggak disetujui karena Hawk Eye-nya ngaco. Akhirnya hasilnya 0-0.
Saya sih berharap tim lain juga bisa jadi juara, bukan cuma yang dimiliki negara. Tapi ya, City kayaknya bakal terus ada, apalagi setelah Pep pergi. Gak mungkin bakal hancur dalam hidup saya.
Fans Arsenal pasti paling frustrasi karena cedera di jeda internasional yang bukan kualifikasi Piala Dunia. Cedera ini emang bikin orang males, sama kayak VAR.
Ternyata, ego-ego besar di lima liga besar bikin akhir pekan jadi momen yang bikin pasangan kita bete. Pacar saya udah mulai ngeluh karena waktu dihabisin buat nonton bola terus.
Villa: Tim Terjammy Abis!
Meskipun banyak yang puji Villa karena performa Liga Champions mereka, seberapa banyak sih mereka dapat dari kesalahan wasit?
Contohnya, pertandingan melawan Sheffield, itu jadi penentu nasib Villa. Akhirnya mereka tetap di Premier League, dan Grealish dijual 100 juta, padahal bisa cuma 40 juta. Villa emang beruntung, meski sempat jelek, tapi akhirnya dapet pelatih yang bener dan sekarang jadi sejarah yang lagi dibuat.